Sekarang, aku sudah sampai pada titik ini. Hanya ada dua pilihan yang paling memungkinkan: (1) melanjutkan hidup dengan memilih saling membahagiakan bersama seseorang dalam bentuk yang benar-benar utuh tanpa mengemukakan egoku yang ingin mewujudkan impian yang pernah tertinggal di masa lalu, atau (2) melanjutkan hidup sendiri, mencoba menyatakan semua impian tapi berpura-pura bahagia dan berpura-pura mengembang kempiskan dada supaya seolah aku bernafas.
Aku memilih pilihan pertama.
Segala sesuatu memang perlu pengorbanan, meninggalkan mimpiku bukan sesuatu yang merugikan, lagipula impian itu sudah kada luarsa, hanya saja aku yang terlalu memaksakan diri. Mencoba
melupakan kalau sebenarnya dalam hidup tidak segala sesuatu yang aku kehendaki terjadi. Aku melupakan Tuhan, Sang Pengatur Semua. Aku lebih memilih memimpikan sesuatu yang baru, sesuatu yang mungkin sudah pasti akan terwujud. Hidup berdampingan dengannya, bersisian dengannya, menyatu dengannya, saling mengisi dan saling memberikan kebahagiaan yang tak terukur, yang tak berbatas waktu.
Aku meyakini, Tuhan selalu memberikan jalan hidup yang terbaik untukku.
Dan yang terbaik untukku, pastilah bersamanya.
Aku memilih pilihan pertama.
Segala sesuatu memang perlu pengorbanan, meninggalkan mimpiku bukan sesuatu yang merugikan, lagipula impian itu sudah kada luarsa, hanya saja aku yang terlalu memaksakan diri. Mencoba
melupakan kalau sebenarnya dalam hidup tidak segala sesuatu yang aku kehendaki terjadi. Aku melupakan Tuhan, Sang Pengatur Semua. Aku lebih memilih memimpikan sesuatu yang baru, sesuatu yang mungkin sudah pasti akan terwujud. Hidup berdampingan dengannya, bersisian dengannya, menyatu dengannya, saling mengisi dan saling memberikan kebahagiaan yang tak terukur, yang tak berbatas waktu.
Aku meyakini, Tuhan selalu memberikan jalan hidup yang terbaik untukku.
Dan yang terbaik untukku, pastilah bersamanya.
0 komentar:
Posting Komentar