Entah dimana perasaan ini seharusnya ku tempatkan.
Aku mengambang di antara rasa rindu dan kecewa luar biasa.
Aku ingin bicara, aku ingin kau tahu tentang rindu dan lukaku. Tapi kata seolah lenyap.
Aku seperti orang yang tak bisa mengucap. Setiap kalimat yang sudah susah payah ku rangkai dalam hati, ku telan lagi.
Pahit rasanya, seandainya kau tahu aku diam-diam selalu menyebut namamu dalam doa dan aku merasakan getaran aneh di rongga dadaku setiap nama itu terbaca, bersuara atau pun tidak. Semacam perasaan senang namun dicampuri rasa tak karuan yang aneh. Aku tak tahu perasaan aneh bentuk apa lagi itu.
Sudah tak terhitung berapa kali sudah pesan-pesan singkat dan telepon itu hanya berakhir di kotak daft dan tombol merah pengakhir panggilan. Nyaliku mengecil setiap kali jaringan ajaib handphone mencoba membantuku mencari-cari kabar tentang dirimu.
Aku hidup dalam keraguan antara harus melupakanmu atau tetap bertahan menyayangimu dalam diamku.
Andai saja aku mampu, aku ingin sekali tidak menatap matamu lagi.
Aku tersiksa menahan sakit ini saat pandangan kita bertemu, sesebentar apa pun itu. Karena hanya aku yang tahu seberapa besarnya rasa sayang dan kekacauan hatiku yang aku simpan dalam tiap air mata yang jatuh setiap malam tanpa pernah kau tahu.
Dan tiap butir air mata itu, tak ada celah sekecil apa pun untuk siapa pun karena air mataku jatuh hanya karena satu nama, air mataku jatuh hanya karena satu sebab.
"KAMU
7 Juli 2016 5:25
Aku mengambang di antara rasa rindu dan kecewa luar biasa.
Aku ingin bicara, aku ingin kau tahu tentang rindu dan lukaku. Tapi kata seolah lenyap.
Aku seperti orang yang tak bisa mengucap. Setiap kalimat yang sudah susah payah ku rangkai dalam hati, ku telan lagi.
Pahit rasanya, seandainya kau tahu aku diam-diam selalu menyebut namamu dalam doa dan aku merasakan getaran aneh di rongga dadaku setiap nama itu terbaca, bersuara atau pun tidak. Semacam perasaan senang namun dicampuri rasa tak karuan yang aneh. Aku tak tahu perasaan aneh bentuk apa lagi itu.
Sudah tak terhitung berapa kali sudah pesan-pesan singkat dan telepon itu hanya berakhir di kotak daft dan tombol merah pengakhir panggilan. Nyaliku mengecil setiap kali jaringan ajaib handphone mencoba membantuku mencari-cari kabar tentang dirimu.
Aku hidup dalam keraguan antara harus melupakanmu atau tetap bertahan menyayangimu dalam diamku.
Andai saja aku mampu, aku ingin sekali tidak menatap matamu lagi.
Aku tersiksa menahan sakit ini saat pandangan kita bertemu, sesebentar apa pun itu. Karena hanya aku yang tahu seberapa besarnya rasa sayang dan kekacauan hatiku yang aku simpan dalam tiap air mata yang jatuh setiap malam tanpa pernah kau tahu.
Dan tiap butir air mata itu, tak ada celah sekecil apa pun untuk siapa pun karena air mataku jatuh hanya karena satu nama, air mataku jatuh hanya karena satu sebab.
"KAMU
7 Juli 2016 5:25
0 komentar:
Posting Komentar