Mana matahari yang kau janjikan?
Sampai pada saat ini, hanya ada mendung yang menggantung di sana.
Mana cahayanya?
Kenapa sebentar sekali penerangannya?
Yang terang kemarin itu bukan matahari.
Itu cahaya lampu.
Penerang buatan yang palsu.
Pantas saja cepat sekali redupnya.
Lihat! Mendung yang kau ciptakan menjadi hujan.
Kenapa tak kau payungi lagi aku?
Kenapa kau biarkan aku dibasahi guyuran hujan lagi?
Kau bukan orang asing.
Kau tahu aku selalu sakit jika kena hujan.
Tapi kenapa kau biarkan hujanmu menyakitiku?
Kenapa kau tak merawat sakitku?
Kenapa kau tak mau lagi menjadi obat?
Kenapa kau tak mau lagi jadi penyembuhku?
Aku tahu, salahku yang menyebabkan mendungmu menggumpal di sana.
Tapi tak adakah sisa maaf untukku?
Sedikit saja.
Tolong tahan hujanmu,
tahan dulu menyakitiku.
Tak bisakah kau lihat, sudah terlalu banyak luka yang aku tanggung.
Obatilah dulu sedikit lukaku itu.
Tolong sembuhkan dulu sedikit sakitnya.
Nanti aku mati.
Sampai pada saat ini, hanya ada mendung yang menggantung di sana.
Mana cahayanya?
Kenapa sebentar sekali penerangannya?
Yang terang kemarin itu bukan matahari.
Itu cahaya lampu.
Penerang buatan yang palsu.
Pantas saja cepat sekali redupnya.
Lihat! Mendung yang kau ciptakan menjadi hujan.
Kenapa tak kau payungi lagi aku?
Kenapa kau biarkan aku dibasahi guyuran hujan lagi?
Kau bukan orang asing.
Kau tahu aku selalu sakit jika kena hujan.
Tapi kenapa kau biarkan hujanmu menyakitiku?
Kenapa kau tak merawat sakitku?
Kenapa kau tak mau lagi menjadi obat?
Kenapa kau tak mau lagi jadi penyembuhku?
Aku tahu, salahku yang menyebabkan mendungmu menggumpal di sana.
Tapi tak adakah sisa maaf untukku?
Sedikit saja.
Tolong tahan hujanmu,
tahan dulu menyakitiku.
Tak bisakah kau lihat, sudah terlalu banyak luka yang aku tanggung.
Obatilah dulu sedikit lukaku itu.
Tolong sembuhkan dulu sedikit sakitnya.
Nanti aku mati.
0 komentar:
Posting Komentar