Dalam kondisi sekarang dan dalam pemahamanku yang sekarang, aku baru menemukan apa itu penyesalan.
Aku menyesal.
Bukan menyesali tentang kegagalan dalam hubungan dengan siapa pun. Bukan menyesali tentang
impianku yang sudah mengabu itu.
Aku menyesali kebodohanku. Aku menyesali dengan semua pengalaman dari berbagai tempat dan kalangan yang sudah senior terjebak dalam dunia itu, ternyata semua itu tidak juga mampu menahan prinsip.
Pertahanan, pendirianku yang ku kira sudah sangat kuat kugenggam malah terlepas. Bahkan aku sendiri tidak sadar aku melepaskan pertahanan diri yang paling penting yang pernah ku pegang.
(Satu kesimpulan baru yang ku dapat dari sini; Cobalah untuk tidak menggenggam sesuatu terlalu erat, apa pun itu. Kadang karena terlalu erat menggenggam bisa menyebabkan matirasa, karena terlalu erat menggenggam, kita sendiri letih lalu tanpa sadar melepaskan apa yang kita genggam dengan sangat sederhana.)
Waktu kebodohan itu menguasai, aku mengira masa depanku sudah tidak bisa tergapai. Padahal salah, masa depan itu selalu ada, selalu disana. Hanya saja pandanganku terlindung dengan pemikiran yang sudah duluan menyimpulkan kalau tempat yang lebih baik dimasa depan tidak tersedia untukku.
Aku menyesali terjun bebas ini.
Melawan kekacauan itu lebih menyiksa psikis daripada harus melawan rintangan dalam kenyataan untuk sampai disebuah tempat yang baik didepan sana.
Aku salah menyimpul kalau kemarin aku gagal. Kemarin padahal aku belum gagal. Kemarin padahal aku masih memiliki banyak hal yang bisa membantuku mengantarkan ke depan. Ke tempat yang baik.
Aku ternyata baru saja gagal. Baru saja.
Kegagalan dan penyesalanku yang paling nyata adalah masuknya aku ke ranah yang hanya menyediakan mendung. Tanpa pernah ada matahari.
Gelap. Masih sudikah cahaya menampakkan warnanya dan berdamai denganku?
Terangi aku mas, terangi aku~ -_-'
Kacau 😁
Aku menyesal.
Bukan menyesali tentang kegagalan dalam hubungan dengan siapa pun. Bukan menyesali tentang
impianku yang sudah mengabu itu.
Aku menyesali kebodohanku. Aku menyesali dengan semua pengalaman dari berbagai tempat dan kalangan yang sudah senior terjebak dalam dunia itu, ternyata semua itu tidak juga mampu menahan prinsip.
Pertahanan, pendirianku yang ku kira sudah sangat kuat kugenggam malah terlepas. Bahkan aku sendiri tidak sadar aku melepaskan pertahanan diri yang paling penting yang pernah ku pegang.
(Satu kesimpulan baru yang ku dapat dari sini; Cobalah untuk tidak menggenggam sesuatu terlalu erat, apa pun itu. Kadang karena terlalu erat menggenggam bisa menyebabkan matirasa, karena terlalu erat menggenggam, kita sendiri letih lalu tanpa sadar melepaskan apa yang kita genggam dengan sangat sederhana.)
Waktu kebodohan itu menguasai, aku mengira masa depanku sudah tidak bisa tergapai. Padahal salah, masa depan itu selalu ada, selalu disana. Hanya saja pandanganku terlindung dengan pemikiran yang sudah duluan menyimpulkan kalau tempat yang lebih baik dimasa depan tidak tersedia untukku.
Aku menyesali terjun bebas ini.
Melawan kekacauan itu lebih menyiksa psikis daripada harus melawan rintangan dalam kenyataan untuk sampai disebuah tempat yang baik didepan sana.
Aku salah menyimpul kalau kemarin aku gagal. Kemarin padahal aku belum gagal. Kemarin padahal aku masih memiliki banyak hal yang bisa membantuku mengantarkan ke depan. Ke tempat yang baik.
Aku ternyata baru saja gagal. Baru saja.
Kegagalan dan penyesalanku yang paling nyata adalah masuknya aku ke ranah yang hanya menyediakan mendung. Tanpa pernah ada matahari.
Gelap. Masih sudikah cahaya menampakkan warnanya dan berdamai denganku?
Terangi aku mas, terangi aku~ -_-'
Kacau 😁
0 komentar:
Posting Komentar