Senja.
Tentang pandangan seseorang yang menganggap penikmat senja itu lebih menyukai kepergian daripada kedatangan.
Dan fajar.
Pandangan orang itu menyimpulkan lagi bahwa penikmat sunrise itu kebalikan dari senja. Lebih menyukai kedatangan daripada kepergian.
Menurutku, antara kedua kondisi alam itu, senja dan fajar. Masing-masing memiki kisah yang tidak jauh berbeda. Dan kesimpulan dari keduanya akan selalu bertabrakan kalau hanya melihat hal itu sebagai 'senja' dan 'fajar'.
Maka, sejenak jedakan waktu untuk melihat bahwa senja dan fajar itu sama-sama matahari. Sejatinya matahari selalu memiliki sinarnya sendiri sekalipun itu dalam gelap.
Jika aku diharuskan untuk memilih antara senja dan fajar. Pilihanku jatuh disenja.
Kenapa?
Karena senja tidak mempunyai bayangan ketika ia hilang. Ya, memang sedikit pedih karna waktu untuk senja itu hanya sebentar tapi paling tidak dia tidak menyembunyikan hal lain di balik cahaya. Paling tidak senja memiliki lebih sedikit kepura-puraan daripada fajar.
Fajar yang memiliki waktu jelas lebih lama tapi selalu membawa bayangan kemanapun. Itu terlalu.......aneh.
Tapi, terlepas dari dua pilihan itu, aku jauh lebih suka memandangnya sebagai matahari.
Akan selalu bersinar dan selalu ada. Dalam kondisi apapun.
Matahari itu seperti kamu. Menyengat memang, panas kadang, tapi memiliki cahaya sendiri. Dan belakangan ini selalu cahaya itu yang ada. Selalu cahaya panas itu yang mengeringkan air mata.
Aku berterimakasih untuk itu, matahari.
Sejauh apapun jaraknya, dari tempatku berdiri nanti setidaknya aku masih bisa menengadah dan melihat silau itu. Dan jikapun nanti gelap, aku tetap akan tahu kau selalu bersinar dari sisi sana.
Bandung, 17 Januari 2018 22:49
Boleh ku copy kata"nya?
BalasHapusKeren👍🏻
BalasHapus