Aku hampir saja tidak bisa mehanan diri untuk pergi ke kota itu, kota tempat semua kesibukan membuatmu melupakanku.
Beberapa puluh hari terakhir ini, aku ingin sekali melihatmu, ada di sekitarmu, menontoni
kesibukanmu atau sekedar mendengar cerita keseharianmu tapi apalah aku, hanya seseorang yang pelan-pelan terlupakan. Atau dilupakan?
kesibukanmu atau sekedar mendengar cerita keseharianmu tapi apalah aku, hanya seseorang yang pelan-pelan terlupakan. Atau dilupakan?
Jarak ini hanya membutuhkan waktu tempuh satu jam untuk kita bisa dekat, aku mau melewatinya tapi setelah kupikir lagi, setelah kupaksa otakku bekerja melebihi hati, aku tidak akan melakukan itu untuk seseorang yang juga tidak melakukan itu untukku.
Seperti yang sering kau lakukan, aku tidak lagi ingin menanyakan. Tidak lagi ingin memaksa sebuah pertemuan yang hanya di kehendaki sebelah pihak. Acuhmu kujadikan panutan utama untuk menyikapi keadaan kita yang sekarang.
Hal terparah dari semua ini adalah, saat aku sedang ingin pergi, sedang ingin bercerita, ingin sekali menangis, orang yang di sisiku bukan kamu padahal bukan itu yang kuingin. Kau bersikap semuanya selalu baik-baik saja. Bagaimana bisa kau tahu semua yang ada padaku baik-baik saja sedangkan kau tidak pernah bertanya. Dan aku juga bagaimana bisa tahu tentang kabarmu di sana sedangkan minatku untuk bertanya setipis perasaan ini.
Mungkin sulit buatmu untuk bangun lebih pagi, menyisihkan sedikit waktu sibukmu untuk menemuiku dan mulai memperbaiki kerusakan akut yang sudah terjadi tanpa kau sadari sama sekali. Dan ini juga jadi kesulitan baru buatku untuk merengek meminta waktu hanya untuk sekedar ketemu. Sesebentar apa pun itu.
Oh, tidak. Aku sudah mulai menyerah dengan ini, pelan-pelan dari jauh aku tata hal yang di dalamnya tidak melibatkan kamu dulu, karena tidak baik buatku untuk mengikutsertakan ketidak pastian.
Selamat menyibukkan diri sampai salah satu dari kita benar-benar sibuk dengan diri sendiri,
Banjarbaru, 9 Agustus 2019 10:21

0 komentar:
Posting Komentar