Setelah malam minggu kemarin rencana kami (Aku, El, Ucup
dan Dayat – kami alumni se SMP) buat mau camping di Tahura, Mandiangin di cancel
gara-gara cuaca yang nggak mendukung, akhirnya, dengan sedikit memaksa, malam
senin ini terlaksana misi kami. Tapi ada perubahan rute dan perubahan personil. Rencana
awal kami mau camp di Mandiangin, tapi berhubung ini bukan malam libur dan jalan
buat menjuju tempat camp yang kami maksud lumayan jauh, kami mengubah haluan
jadi nge-camp di bukit Tiwingan, Riam Kanan karena rute disana pendek dan sama
sunyinya kaya di mandiangin kalau weekday. Dan kalau mau membanding-banding
view, menurutku di Tiwingan lebih komplit pemandangannya. Cuman satu yang
kurang disitu, nggak terlalu sunyi karna dekat banget sama dermaga jadi sepanjang malam
banyak mobil-motor lewat dijalan.ohya, kalau mau camping disitu ingat bawa air sendiri karena disana ngga ada yang jualan. Kalau untuk jarak tempuh dari Kota Banjarmasin mungkin sekitaran 1,5 - 2 jam perjalanan darat. Bukit Tiwingan ini letaknya di Desa Tiwingan Lama, Aranio.Aku selalu menyukai pemandangan alam jika sudah memasuki daerah Aranio, menghijau dimana-mana. Jika ingin ke sini, kita juga ngelewatin air terjun Sungai Kambang . cantik sekali suasana di sana.
Dayat yang lagi sakit, di gantikan dengan Mita yang dadakan banget aku ajak buat ikut camping malam itu.
Dayat yang lagi sakit, di gantikan dengan Mita yang dadakan banget aku ajak buat ikut camping malam itu.
17 April 2016
20.28 El dan Ucup datang jemput aku. Kami sempat
santai beberapa menit dulu depan rumahku sambil menghisap beberapa batang
menthol kesukaan, dan juga sekalian nunggu Mita selesai siap-siap.
22.44 Mampir dulu di bundaran Martapura, ngopi
bentar di sana sekalian ketemuan sama temen alumni SMP juga, Wahyu Bule. Padahal
sekalian mau ngajak dia naik juga, tapi susah, dianya musti kerja besoknya,so,
kami cuman mampir say hello aja sama sekalian mau numpang pipis di pom bensin
deket situ, udah kebelet banget tapi payah, pom bensinnya udah tutup dan wc nya
juga dikunci. Nahan kencing dah gua!
23.15 Kami ngelanjutin perjalanan. Dari bundaran
Martapura musti nahan kencing, nyari mushola atau mesjid yang ada di daerah
sana, sekitar 15 menit perjalanan baru bisa bener-bener lega ngenikamatin perjalanan. Karena berangkatnya malam, pemandangan sepanjang perjalanan cuman bisa dinikmati siluetnya dong. Tapi tetap cantik kok, siluet perbukitan juga ternyata juga menyimpan keindahan dalam gelap, *eea
23.48 Sampai di dermaga penyebrangan Riam Kanan. Kami
markir di sana dan langsung bergerak naik ke Tiwingan. Ada sedikit kejadian yang konyol disini. Dulu, dua tahun yang lalu aku juga pernah camping di sini. waktu itu salah satu teman yang udah pernah camping duluan di Tiwingan bilang di atas bukit agak susah nyari ranting, jadi kami membawa ranting dari bawah untuk bikin api unggun. Mengingat kejadian itu, aku juga bilang sama Ucup dan El kalau di atas susah nyari ranting. Jadi mereka berdua semangat mengikis semak-semak demi mendapatkan ranting. Lumayan banyak ranting yang mereka dapat malam itu dan dengan susah payah mereka membawa ranting itu keatas. Sesampainya di puncak, mereka speachless ngelihat banyak banget ranting-ranting pohon yang bisa dijadiin buat bikin api unggun. Aku jadi subyek utama kekesalan mereka yang merasa kayak di begoin. haha kasian sekali. Aku juga mana tau kalau di atas ada ranting yang bisa di pakai bikin api, dan jika dipikir-pikir juga, mana mungkin nggak ada ranting sama sekali di puncak yang rimbun dengan pepohonan. Aku tiba-tiba ngerasa bodoh sendirian. Haha, sungguh kasian.
18 April2016
00.03 Sampai di puncak Tiwingan, alhamdulilah,
selama pendakian tidak ada korban. Mereka kuat semua, haha. Kami langsung bagi
tugas. Ucup sama El, ngebangun tenda, Mita nyalain api unggun dan aku bertugas
di dapur. Ngerebus air biar bisa
langsung ngopi.
00.20 Tenda udah berdiri kokoh, kopi udah jadi,
dan api unggun juga udah nyala. Kami berkumpul mengelilingi api unggun dan
sesekali melakukan adegan berbahaya yang bisa bikin kecanduan dan pasti bakalan
susah banget buat di stop, apa lagi untuk sejnis orang seperti Aku dan Mita.
Foto!
Nggak lama-lama banget sih
ngumpul di depan api unggun. Kami lebih memilih untuk membiarkannya mati dan
menikmati pemandangan malam yang disuguhkan Tiwingan. Aku bahagia. Takjub,
terpsona dan bersyukur. Masya Allah, jelas Allah benar-benar yang paling
berkuasa diseluruh jagat raya, Dia mampu memberikan keindahan sekalipun itu
dalam kegelapan, Allah hu Akbar!
Kami duduk berjejeran menghadap
bendungan Riam Kanan yang berada tepat di depan kami. Susunan lampu-lampu neon berbentuk *Los Angles (hal ini cuma kami yang ngerti, maaf sekali pemirsa). Susunan abstrak lampu-lampu
dari rumah penduduk yang ada di pulau-pulau kecil di tengah bendungan
mempercantik pemandangan, belum lagi langitnya yang cerah bertabur ribuan
bintang. Aku sungguh menikmati malam ini.
Sambil menunggu pagi, kami
bermain tebak judul lagu. Lumayan seru permainan malam itu. Aku sungguh
menyukai momen kami maLam itu. Menontoni keindahan malam Tiwingan bersama
teman-teman tersayang. Malam yang asik guys!
Memasuki jam 03.00 para pasukan
mulai merasakan sesuatu yang mulai mengganggu. Aku pun juga merasakan hal yang
sama. Kami lapar! Sambil kembali menyalakan api unggun yang kali itu di tangani
sama mereka bertiga. Sedangkan aku bertugas menontoni dan menyiapkan mie instan
cup yang menjadi primadona perut di jam itu.
Tak ada yang tidur malam itu
kecuali Mita. Habis makan, dia langsung masuk tenda dan menghilang begitu saja.
Kami bertiga lebih memilih menanti matahari muncul di celah-celah bukit .
pemandangan menjelang matahari terbit itu benar-benar indah, aku sungguh senang
dengan momen itu. Aku bahagia menontoninya dengan sahabat-sahabat keciLku yang
seLaLu ada untukku dalam kondisi apa pun.
Momen-momen indah ini kami
abadikan dengan beringas.
Ini ada beberapa foto hasil
jeprat jepret pagi itu,
Setelah benar-benar puas berfoto.
Kami peking untuk pulang.
Hari ini gila! Bukannya langsung
pulang dan istirahat, kami malah lanjut pergi karokean pas sampai di
Banjarmasinnya. Kami berempat nggak ada yang mandi, badan dan baju bau
keringat, muka dekil minta ampun, mata sayu, kaki kotor macam kaki kuli. Dengan
kadaan seperti itu kami masih punya nyali untuk mampir ke tempat karaoke
keluarga buat menghabiskan sedikit waktu lagi untuk bersama. Lyric jadi sasaran
kami. Dua jam menghabisakan waktu untuk menguras sisa-sisa tenaga yang masih
tersisa dengan bernyanyi. Pemilihan lagu yang kami pilih juga beragam, mulai
dari curhart, lagu nggak jelas, sampai lagu yang jadi ajang kode-kodean, haha.
Sungguh luar biasa hari ini.
Hm.. terimakasih kawanku, teman
tersayangku untuk waktu dan tenaga kalian. Aku benar-benar merasa seolah aku
tidak punya beban hari ini. Aku sungguh bahagia bisa menghabisakan waktu
bersama kalian sahabatku, teman tersayangku.
Ingat terus momen ini ya guys. Dan
di tunggu next trip dan tingkah kita yang lebih gokil dari pada ini.




0 komentar:
Posting Komentar