Mari kembali ke masa empat atau lima tahun yang lalu.
Saat aku masih mempunyai semangat, cita-cita dan mimpi.
Saat semua yang ku inginkan berkesempatan tercapai.
Saat aku sedang bersinar-sinarnya dan saat dia dan aku bertemu di satu tempat baru yang asing. Tempat baru yang sekarang sering ku sebut dengan 'rumah'
Perkenalan yang salah dan awal hubungan yang salah. Tapi semua yang salah itu nampak indah. Waktu itu, saat aku dan dia menyatu. Saat segala ujung dari kisah kami yang rumit diikat oleh lebel suci dari seruan "barakallah" saksi. Dari sana, bidadari mungil hadir. Mempesona.
Kupikir, itu adalah awal dari kebahagiaan baru. Kelanjutan dari bahagia-bahagia lain yang pernah dia ciptakan untukku.
Tapi semakin kesini, semakin sering doa ku lafalkan, semakin ajaib waktu menunjukkan.
Keterikatan kami adalah satu bencana terbesar yang pernah ku alami dalam hidup.
Kata siapa memendam emosi itu menyenangkan?
Aku korbannya, berbagai macam bentuk emosi ku pendam. Menumpuk lama. Bebannya semakin hari semakin tak tertahan. Lalu meledak.
Kejadian elusan manismu di pipi kiriku penutupnya.
Dan memisahkan diri darimu adalah satu-satunya solusi terbaik yang ada. Membawa bidadariku menjauh dari tempat yang buruk. Menjauhkannya dari yang buruk!
Dendam? Tidak. Aku hanya benci.
Jadi disini, aku dan bidadariKU melanjutkan hidup. Kami bahagia.
Di dunia ini Bidadariku itu punya semua sebutan untuk keluarga; Bunda, Bowu, Oma, Opa, Opung, Tante, Om, Tulang, semuanya dia punya kecuali AYAH.
Bidadariku terlalu suci untuk mengenal dan tahu tentang kata 'Ayah'
Bidadari itu milikku. Hanya milikku dan dia, seseorang yang sempat ku anggap ayah dari bidadariku hanya pemeran pembantu dalam skenario ini. Dia sudah kuhapus dan terhapus. Dia sudah tersisih dan disisihkan.
Untuk dia, bahkan merindukan kami pun aku tak sudi.
Segala yang terbaik dan yang terburuk itu sebenarnya ada pada diriku. Tinggal dia seharusnya yang memilih ingin menjadikanku seperti apa.
Aku menjelma menjadi sosok yang orang-orang katakan luar biasa, tapi ternyata dia tidak memilih menjadikanku sosok yang terbaik.
Malah sebaliknya, tanpa dia sadar sebenarnya aku banyak meneliti dalam diamku.
Mungkin dalam pikirannya aku bodoh tapi naluriku tidak sebodoh pikiran dia.
Sepintar apa pun dia menutupi kesalahannya, aku pasti akan tahu. Itu sudah pernah ku peringatkan berkali-kali. Aku bisa secara ajaib tahu, melihat, mendengar dan mengerti apa pun hal berkemungkinan membuatku sengsara kedepannya.
Dalam kepura-puraannya, dalam kebohongannya, ketidak sadarannya atas kemampuanku, aku bisa merasakan dan 'tahu' dia tidak pantas untuk ku puja. Tidak pantas aku mengabdi pada seseorang yang menyimpan hal menyakitkan yang baginya menyenangkan di belakangku.
Dengan sangat pelan aku memahami peran yang dia mainkan dan itu semua berujung di satu titik batas pertahananku. Muak!
Kejadian itu, empat jari kananmu yang tergulung dan mendarat di pipi kiriku menjadi penyadar dan pemutus kata 'kita' antara aku dan dia.
Dia pantas di tinggal pergi dan dia memang seharusnya pergi dari hidupku.
Pergilah bersama semua kebangsatanmu...
16 Januari 2017 05:07
Saat aku masih mempunyai semangat, cita-cita dan mimpi.
Saat semua yang ku inginkan berkesempatan tercapai.
Saat aku sedang bersinar-sinarnya dan saat dia dan aku bertemu di satu tempat baru yang asing. Tempat baru yang sekarang sering ku sebut dengan 'rumah'
Perkenalan yang salah dan awal hubungan yang salah. Tapi semua yang salah itu nampak indah. Waktu itu, saat aku dan dia menyatu. Saat segala ujung dari kisah kami yang rumit diikat oleh lebel suci dari seruan "barakallah" saksi. Dari sana, bidadari mungil hadir. Mempesona.
Kupikir, itu adalah awal dari kebahagiaan baru. Kelanjutan dari bahagia-bahagia lain yang pernah dia ciptakan untukku.
Tapi semakin kesini, semakin sering doa ku lafalkan, semakin ajaib waktu menunjukkan.
Keterikatan kami adalah satu bencana terbesar yang pernah ku alami dalam hidup.
Kata siapa memendam emosi itu menyenangkan?
Aku korbannya, berbagai macam bentuk emosi ku pendam. Menumpuk lama. Bebannya semakin hari semakin tak tertahan. Lalu meledak.
Kejadian elusan manismu di pipi kiriku penutupnya.
Dan memisahkan diri darimu adalah satu-satunya solusi terbaik yang ada. Membawa bidadariku menjauh dari tempat yang buruk. Menjauhkannya dari yang buruk!
Dendam? Tidak. Aku hanya benci.
Jadi disini, aku dan bidadariKU melanjutkan hidup. Kami bahagia.
Di dunia ini Bidadariku itu punya semua sebutan untuk keluarga; Bunda, Bowu, Oma, Opa, Opung, Tante, Om, Tulang, semuanya dia punya kecuali AYAH.
Bidadariku terlalu suci untuk mengenal dan tahu tentang kata 'Ayah'
Bidadari itu milikku. Hanya milikku dan dia, seseorang yang sempat ku anggap ayah dari bidadariku hanya pemeran pembantu dalam skenario ini. Dia sudah kuhapus dan terhapus. Dia sudah tersisih dan disisihkan.
Untuk dia, bahkan merindukan kami pun aku tak sudi.
Segala yang terbaik dan yang terburuk itu sebenarnya ada pada diriku. Tinggal dia seharusnya yang memilih ingin menjadikanku seperti apa.
Aku menjelma menjadi sosok yang orang-orang katakan luar biasa, tapi ternyata dia tidak memilih menjadikanku sosok yang terbaik.
Malah sebaliknya, tanpa dia sadar sebenarnya aku banyak meneliti dalam diamku.
Mungkin dalam pikirannya aku bodoh tapi naluriku tidak sebodoh pikiran dia.
Sepintar apa pun dia menutupi kesalahannya, aku pasti akan tahu. Itu sudah pernah ku peringatkan berkali-kali. Aku bisa secara ajaib tahu, melihat, mendengar dan mengerti apa pun hal berkemungkinan membuatku sengsara kedepannya.
Dalam kepura-puraannya, dalam kebohongannya, ketidak sadarannya atas kemampuanku, aku bisa merasakan dan 'tahu' dia tidak pantas untuk ku puja. Tidak pantas aku mengabdi pada seseorang yang menyimpan hal menyakitkan yang baginya menyenangkan di belakangku.
Dengan sangat pelan aku memahami peran yang dia mainkan dan itu semua berujung di satu titik batas pertahananku. Muak!
Kejadian itu, empat jari kananmu yang tergulung dan mendarat di pipi kiriku menjadi penyadar dan pemutus kata 'kita' antara aku dan dia.
Dia pantas di tinggal pergi dan dia memang seharusnya pergi dari hidupku.
Pergilah bersama semua kebangsatanmu...
16 Januari 2017 05:07
0 komentar:
Posting Komentar