Tak pernah terpikir dan tak pernah mau untuk menjadi seorang santri. Yah, jelas itu karena faktor pergaulan yang aku tidak pilih-pilih waktu itu. Aku dengan sesukanya saja membiarkan diriku terjebak dalam urusan dunia yang serba tidak pasti ini.
Tapi Allah selalu Maha Baik, Dia tidak mau membiarkanku terlalu jauh dari-Nya, lalu dengan caranya aku di ringankan hatiku melangkahkan kaki untuk hijrah. Pelan-pelan.
Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Dibawah kepengurusan Daarut Tarbiyah, program Akhlak Plus Wirausaha (APW) angkatan ke 32. Tempat dimana langkah pertama hijrahku kuambil.
Sebenarnya ada banyak program santri di DT, silahkan cek di website Daarut Tauhiid Bandung
Program ini adalah program santri mukim selama 100 hari. Dengan pendidikan akhlak yang lebih di tekankan untuk para santri dan wirausaha sebagai pelengkapnya, karena dalam hadist, Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang, seorang wirausaha yang benar-benar harus jadi panutan bagi setiap muslim/ah bahkan sistem dan cara bisnis Nabi seharusnya di contoh siapapun yang berbisnis.
Ada 3 marhalah selama program yang harus kami ikuti dengan baik untuk bisa lulus. Marhalah satu adalah masa orientasi dan diklatasar santri. Marhalah dua adalah masa kegiatan belajar dan mengajar (KBM) dikelas. Dan terakhir, marhalah 3 kegiatan khidmat ikhtiar dan khidmat masyarakat. Yang semua kegiatannya harus dilaporkan nanti diakhir program yang ditulis tangan dengan pemilihan kata dan penyusunan kalimat yang harus dirangkai sendiri oleh santri.
Alhamdulillah, ada 24 santri ikhwan dan 26 santri akhwat yang berhasil menyelesaikan program untuk angkatan APW 32 (12 September 2017 - 23 Desember 2017).
Aku masih ingat, detik pertama melangkahkan kaki di DT, saat registrasi ulang dan wawancara, ada hal yang mengganggu niatku waktu itu, apa lagi saat ada sosialisasi kegiatan selama program, aku sempat berpikir untuk mundur detik itu juga, tapi keluarga mendorong penuh untuk tetap bertahan disana. Menyuruh untuk menjalani dulu semampuku. Aku mengalah. Aku sadar, sudah sejauh ini aku pergi meninggalkan rumah. Untuk hari pertama, aku mengalahkan egoku demi sebuah titik cerah kecil dalam hidup dan masa depan keluargaku (diakhirat).
| 12 September 2017 |
| Mabes Akhwat |
Tak banyak kegiatan di hari pertama, hanya registrasi dan wawancara orang tua santri. Setelahnya, santri diantar ke asrama masing-masing.
MC punya tiga lantai, dan untuk APW menempati asrama di lantai teratas. Malam pertama disana, aku sudah terkagum dengan pemandangannya, hamparan lampu kota. Sejak hari itu, pojokan luar kamar asrama menjadi tempat favoritku bertengger tiap malam.
0 komentar:
Posting Komentar