*Jika mencari info tentang perjalanan atau rute ke Bukit Lintang, silahkan pergi ke blog lain. Tulisan di sini hanya sebuah kisah pribadi tentang perjalananku ke sana yang gagal dan di tambahi dengan galau pribadi.
Tidak ada rencana sama sekali padahal untuk pergi ke bukit Lintang hari ini. Bahkan aku tidak tahu tentang bukit itu. Aku baru tahu setelah menjajah google maps, mencari-cari tempat terdekat yang cocok untuk membuang semua kekesalan dan kepedihan tentang sebuah keadaan dan akhirnya bukit lintang-lah yang menjadi tujuanku.
Tidak ada persiapan sama sekali, aku hanya pergi membawa sebotol air putih, satu kotak rokok, satu buah buku catatan kecil, pulpen dan sebuah topi. Aku mengajak sepupuku untuk ikut pergi bersamaku tapi sayangnya dia sedang berada di Banjarmasin menghadiri acara resepsi sebuah keluarga suku Batak. Seharusnya aku juga pergi ke sana tapi karena aku bangun terlalu siang, rombongan keluarga meninggalkanku.
Dari sebuah artikel yang ku baca di google tentang bukit lintang, aku tahu perjalanan ini bukan perjalanan yang mudah. Untuk bisa sampai ke sana aku harus melewati hutan sawit selama satu jam dengan kondisi jalan yang berbatu. Tapi kesampingkan dulu resiko tersesat dan berbagai hal menakutkan yang lain. Kepedihanku harus ku buang jauh dari rumah. Jadi aku pergi sendirian ke sana.
Sebelum berangkat, aku mendownload maps offline. Aku butuh itu untuk menunjukkan jalan kemana aku harus pergi karena setelah keluar dari rumah aku sudah tidak punya akses ke internet lagi. Aku tidak punya kuota dan tidak berminat punya kuota. Untuk sekarang memang aku ingin untuk sulit di hubungi.
Pukul 14:32 aku sudah berangkat dari rumah menuju bukit lintang dengan panduan dari maps offline. Menurut maps, aku hanya membutuhkan waktu 55 menit untuk bisa sampai ke sana. Tapi you know lah maps google. Setelah satu jam menempuh perjalanan mengikuti panduan maps aku tersesat. Eh, bukan tersesat juga sih, lebih ke pemilihan jalan yang kurang tepat dari maps. Aku di pandu untuk memasuki jalan berbatu yang kanan kirinya hamparan hutan karet dan jalannya hanya cukup untuk satu buah mobil. Menurut google maps itu adalah rute tercepat untuk bisa sampai ke sana, jaraknya tinggal 5,5 km. Hatiku ragu untuk meneruskan perjalanan lewat situ, terlalu mengerikan untuk di lewati sendirian. Dan lagi, di jalan itu aku melihat banyak sekali monye yang bergantungan dari pohon ke pohon memperhatikan aku yang sedang lewat juga ada anjing kampung kecil di pinggir jalan yang melakukan hal yang sama. Mereka memperhatikan. Dan syukurnya binatang-binatang itu mampu menciutkan nyaliku. Aku memutar balik arah motor, kuurungkan niatku untuk pergi ke bukit lintang.
Begitu aku sampai di jalan raya, aku langsung mencari warung terdekat. Haus iya, tapi niatku mampir lebih ke ingin bertanya tentang jalan ke bukit lintang. Aku menemukan warung di pinggir jalan dan singgah di sana. Memesan segelas minuman manis, basa basi sedikit lalu bertanya. Kata ibu warung aku sudah melewati terlalu jauh gerbang masuk ke bukit lintang. Ibu warung bilang bukit lintang letaknya di desa Martadah sedangkan aku sedang berada di desa yang aku lupa namanya -_-
Selesai minum, aku memacu motorku menuju gerbang yang di beri tahukan ibu warung tadi, walau google maps tadi sempat menciutkan nyaliku tapi tetap ada sedikit niat yang tertinggal untuk bisa sampai ke sana. Aku tahu sudah terlalu sore untuk bisa mendaki naik ke puncak bukitnya, tapi jika tidak bisa ke puncak, paling tidak aku ingin tahu jalan menuju ke sana, aku ingin ada di kaki gunung itu hari ini. Jadi aku membuka google maps lagi, kembali memperhatikan jalan. Sekali lagi aku ingin mencoba ke bukit itu tapi dengan jalan yang berbeda.
15 menit di jalan akhirnya aku menemukan jalan masuk ke desa Martadah. Hanya jalan dengan sebuah papan nama kecil bertulisan “Desa Martadah Baru 1300m” bukan sebuah gerbang. Padahal menurut artikel yang ku baca dan kata ibu warung memang jalan masuk ke bukit lintang melewati gerbang, tapi google maps offline memanduku untuk melewati jalan itu. Jalan yang kali ini waras. Maksudnya jalan ini tidak di apit oleh perkebunan karet seperti sebelumnya dan jalan kali ini beraspal. Jalan ini juga memperlihatkan perbukitan hijau yang kuduga itulah bukit lintang. Jadi aku mengendarai motorku memasuki jalan itu.
Awalnya di kanan kiri jalan masih ada rumah-rumah penduduk, tapi semakin jauh masuk ke dalam kanan kirinya yang awalnya rumah di gantikan oleh perkebunan karet. Yang membuatku tetap yakin meneruskan perjalanan adalah orang-orang yang lewat berpapasan denganku di jalan itu lumayan banyak. Setelah 20 menit, aku akhirnya sampai di desa Martadah Baru.
Perbukitan sudah jelas sekali terlihat. Aku meneruskan perjalanan mengikuti panduan google maps yang lagi-lagi membawaku untuk melewati jalanan berbatu yang kanan kirinya perkebunan sawit tapi kali ini jalannya lebih luas dan menanjak. Samakin tinggi aku naik, semakin jelas perbukitan itu terlihat. Aku yakin ini memang jalan yang benar untuk bisa sampai ke bukit lintang.
Melewati jalan ini tidak setakut saat melewati jalan sebelumnya yang google maps pandu, di jalan aku banyak berpapasan dengan petani-petani yang membawa padi-padi di bagian belakang jok motornya. Tidak jauh dari persawahan itu aku menepikan motorku tepat di jalan batu tertinggi di bawah sebuah pohon. Perbukitan terlihat jelas sekali dari sana. Aku menyalakan sebatang rokok lalu mengamati jalan di bawah sana, hanya ada hijau dedaunan pohon dan tidak terlihat lagi jalanan yang tinggi. Sepertinya tempat aku berhenti ini adalah jalan tertinggi sebelum sampai di kaki bukit lintang. Aku ragu untuk meneruskan perjalanan ke sana karena waktu sudah menunjukkan pukul 16:22. jika tetap kupaksa ke sana, aku akan pulang melewati jalanan dengan perkebunan karet dan sawit itu dalam gelap. Tidak, aku takut. Jadi di situlah titiknya aku harus menikmati perbukitan. Hanya berani sampai di situ untuk hari ini.
Saat aku memutar balik motorku untuk pulang aku melihat bukit kecil sekali, tepat di pinggir jalan, sangat dekat denganku. Di puncaknya ada sebuah pohon dan jalan menuju ke atas sana terlihat landai. Kupikir tidak ada salahnya naik ke sana sebentar untuk sekali lagi memandangi pegunungan yang hari ini gagal ku daki. Jadi aku memakirkan motorku agak dalam di antara semak-semak rumput tinggi dan mulai berjalan naik ke atas bukit kecil itu.
Hanya jalan setapak dengan rerumputan kering dan di beberapa bagian dari bukit ini ada bekas rerumputan yang terbakar. Memang ini sedang memasuki musim hutan terbakar sendiri. Eh, maksudnya, di sini daerah Banjarbaru dan sekiratarnya memang ada satu waktu saat hutan-hutan terbakar sendiri karena terlalu kering dan juga pengaruh dari tanah gambut di bawahnya. Biasanya musim hutan terbakar ini berbarengan dengan musim panas atau musim saat padi-padi sudah selesai di petik. Para petani membakar sawah mereka untuk mempersiapkan lahan yang baru sebelum musim tanam padi tiba lagi. Menurut rumor mereka membakar sawah untuk menghabiskan sisa-sisa tangkai padi. Entah, aku benar-benar tidak tahu tentang hal itu. Lagipula sudah ada Perda yang melarang pembakaran lahan dengan alasan apa pun.
Aku tidak benar-benar sampai di puncak tempat pohon itu berada. Tidak berani naik ke sana karena treknya sudah berubah, terlalu terjal, terlalu curam. Aku ragu untuk naik ke puncaknya karena saat ku coba naik, kakiku tergelincir karena bebatuan dan kemiringan trek. Tidak ada tumbuhan yang dapat ku percaya untuk kupegang jadi kucukupkan diriku hanya bertengger sekitar 5 meter di bawah pohon itu. Memandangi perbukitan hanya dari situ, menangis juga hanya di situ. Aku ingin berteriak tapi tidak berani, takut petani panik. Jadi kutelan lagi teriakanku. Aku hanya duduk, diam, memandangi perbukitan itu dan sesekali menyapu air mataku di pipi. Hanya itu, tidak berani merokok, takut rumputnya sensitif.
Tidak lama aku bertengger di sana. Setelah selesai menangis, aku kembali turun, selfie sekali dengan latar belakang perbukitan walau di foto bukitnya terlihat terlalu kecil. Selesai mengambil beberapa foto yang hasilnya jelek-jelek, aku pulang.
Sebenarnya ingin lebih lama bertengger di sana tapi aku takut pulang dalam gelap. Lagipula kurasa sudah cukup lah aku jauh dari rumah, melewati jalan yang tidak biasa ku lewati untuk bisa sampai di situ, duduk di bahu bukit kecil itu untuk membuang segala kepedihan, untuk menghabiskan stok air mata, untuk meninggalkan kekesalan akibat kejadian malam tadi. Salah satu malam pertengkaran hebat kami, malam di mana aku benar-benar merasa tidak berguna oleh siapa pun, malam saat aku benar-benar merasa menjadi seorang perempuan terpayah, merasa menjadi orang yang terlupakan, menjadi orang yang tak kasat mata terutama bagi dia, seorang lelaki tinggi berjanggut yang pada acara pentingnya, pada kegiatannya, aku tidak pernah diikut sertakan, jangankan itu, kabar saja aku tidak di kasih padahal sebelumnya, saat semuanya masih di titik awal, dia pernah mengatakan ingin aku ada di acaranya, ingin aku selalu terlibat dalam segala kisahnya, ingin aku selalu tahu tentang kesehariannya, tapi mungkin waktu membuatnya lupa tentang segala hal yang pernah dia ucapkan padaku hingga dia sendiri tidak merasa sudah terlalu jauh dia berjalan meninggalkanku di belakang, menunggu kabar, menunggu ajakan, menunggu segala apa yang pernah dia ucapkan. Tapi dari segalanya yang terjadi, dia tidak sepenuhnya salah, dia hanya tidak tahu bahwa waktu tidak pernah berhasil membuatku lupa tentang segala hal yang pernah dia bilang. Itu saja.
Banjarbaru, 8 September 2019






0 komentar:
Posting Komentar