Kalau kau saja berani tega menyakiti hatiku, maka aku seharusnya bisa lebih tega memaafkan.
Yang satu menyakiti dengan senang hati, yang satunya lagi menyangga rasa sakit hati karena perasaan.
Aku harusnya lebih tega membiarkan diriku sakit, karena mungkin rasa sakit itu adalah satu syarat untuk bisa terus di sampingmu.
Tapi, adilkah begitu?
Yang satu menyakiti dengan senang hati, yang satunya lagi menyangga rasa sakit hati karena perasaan.
Apa itu diperbolehkan?
Kalau bumi tahu, ia pasti memberontak.
Bagaimana bisa ia diam sedangkan di tanahnya sedang basah dijatuhi air mata perempuan yang tulus.
Atas semua presepsi, aku harus apa?
Bertahan? atau pergi lagi dengan membawa rasa sakit didadaku?
Selalu begini kah ujungnya aku?
Bandung, 22 September 2017 22:37
0 komentar:
Posting Komentar