Ini wilayah yang belum pernah kujelajahi sebelumnya, dan pasti ada bahaya yang menantiku. Bahaya itu maksudnya ambigu, tidak terpatok pada satu kata bahaya seperti pengertian pada umumnya.
Seperti sekarang, saat semua keresahan menumpuk menjadi beban dan perputar-putar di atas kepalaku, saat aku mengira semua luka itu akan melumpuhkan pijakan kakiku di bumi. Saat aku mengira aku tidak bisa menemukan kekuatan untuk melepaskan beban.
Seperti sekarang, saat semua keresahan menumpuk menjadi beban dan perputar-putar di atas kepalaku, saat aku mengira semua luka itu akan melumpuhkan pijakan kakiku di bumi. Saat aku mengira aku tidak bisa menemukan kekuatan untuk melepaskan beban.
Bahaya itu datang berwujud. Dan kedatangan bahaya itu menakutiku, tapi kabar baiknya rasa takutku tidak cukup untuk membuatnya menjauh, apa lagi setelah ia memahami perasaanku.
Ada butiran bening yang tertahan di setiap hari padahal, tapi bahaya itu sendiri mampu mengubah tangisan menjadi senyum, tawa malah. Bagaimana bisa?
Bagaimana caranya bahaya itu bertahan berdiri disana sedangkan ia tahu ketakutanku akan bahaya itu sungguh besar. Kenapa sederhana sekali caranya mengubah bentuk rasa putus asa?
Sungguh, aku tidak bisa menangkal untuk tidak masuk kedalam bahaya itu. Bahkan sebenarnya aku sendiri yang mendatangi bahaya itu, membawa diriku masuk kedalam bahaya yang lebih besar lagi.
Terserah Tuhan sajalah, doaku sederhana, semoga bahaya apapun yang datang padaku tidak akan beresiko menambahi kepedihan..
Satu kalimat penutup untuk tulisan yang aku sendiri masih bingung memberi judul apa, rumit sekali keadaan ini;
"terimakasih untuk semua bentuk bahayanya, itu membuatku jauh merasa lebih baik di kota asing ini, tetap seperti itu, tetap menjadi bahaya yang beberapa hari belakangan ini selalu ku tunggu (disertai sebuah rindu)"
Bandung, 27 September 2017 18:52
Bandung, 27 September 2017 18:52
0 komentar:
Posting Komentar