Siang itu, dalam sebuah kelas saat
pemateri sedang menjelaskan dan semua sibuk menyimak, aku malah
menyibukkan diriku dengan mengunyah cokelat dan membaaca novel di barisan paling belakang. Dari
balik sekat yang membatasi antara ikhwan dan akhwat aku mendengar namaku dipanggil.
Aku menoleh menanggapi panggilan itu.
“Zah, punya tipe-x gak?”
Tanpa bersuara aku mengambil tipe-x dari kotak pensil dan melemparnya melalui celah bawah pembatas. Tak lama, tipe-x itu dilemparkan kembali beriringan dengan ucapan ‘terimakasih’ yang kujawab dengan ‘yuu...’
Hal itu
terjadi lagi esoknya, orang yang sama meminjam barang yang sama dan itu dia
lakukan berhari-hari tanpa jeda sampai aku hafal suaranya dan mengambil tipe-x tanpa
menoleh lagi dan langsung melemparkannya ke bawah celah. Aku berpikir untuk
memberikan saja tipe-x itu daripada harus repot meladeni lelaki yang aku tidak
tahu itu
siapa. Dihari ketujuh, lelaki itu mengembalikan tipe-x diiringi dengan sebatang
cokelat yang sering aku makan. Aku menatap cokelat itu dengan heran. Lalu
memberanikan diri bertanya ke balik sekat itu.
“Cokelat siapa?”
Lelaki yang
kukenali suaranya itu menjawab singkat.
“Buat lu”
Kejadian
itu membuat beberapa teman dekatku menyorak kecil. Aku benci mendapat kata ‘ciye’
dari mereka. Jauh didalam hatiku, aku sedang berjuang menyembuhkan luka yang
kudapat setelah sampai di Bandung. Hanya berjeda waktu dua minggu lelaki yang
kucintai di Banjarmasin sana tega berkhianat. Aku mendapat bukti
pengkhianatannya dari screenshoot yang dikirimkan adikku melalui facebook. Hari
itu, sesaat setelah mendapat bukti pengkhianatan itu tangisku pecah
sejadi-jadinya di box nomer satu dalam sebuah warnet di jalan Gegerkalong
Hilir.
Malam hari,
saat semua kegiatan program sudah berakhir untuk hari itu, aku menyeduh kopi
dan berkumpul dengan beberapa teman dekat selama masa program. Mengobrol ringan
dan saling bertukar cerita. Cokelat yang kudapat dari laki-laki yang aku tidak
tahu namamnya itu aku nikmati bersama mereka.
Keesokannya
saat kelas,
lelaki itu melemparkan sebuah lipatan kertas kecil yang diatasnya tertulis
namaku. Surat itu berisi ajakan untuk makan siang dan dia menuliskan namanya
dibagian paling bawah kertas. Berat aku menimbang ajakannya itu sampai aku
memutuskan untuk mengiyakan. Tapi saat surat balasan dariku itu hendak
kulemparkan kembali, jam pelajaran kelas berakhir. Surat balasanku itu berakhir
di kotak pensil. Aku urung mengirimkannya lagi.
Senja
sehari setelah kejadian surat itu, aku berdiri di depan kotak ATM mengantri
giliran. Aku dikagetkan dengan suara
yang datang dari belakang, dia bilang.
“Gimana ajakan yang kemarin? Mau gak?”
Dengan
sedikit menoleh kebelakang aku menjawab.
“Dimana tempatnya?”
Lelaki
dibelakangku itu memberitahu nama sebuah rumah makan dan waktu kapan kami akan
bertemu disana. Tempatnya tidak jauh dari asrama tempatku tinggal selama
program.
Diwaktu
yang dia sebutkan, aku bersama seorang teman menuju tempat itu. Disana dia dan
seorang teman lelakinya juga sudah duduk menunggu. Aku langsung bergabung ke
meja mereka dan memulai percakapan ringan. Sehari setelah makan malam bersama
itu, kami tidak pernah absen berkiriman surat.
Suatu hari,
kami membuat janji untuk bertemu diluar. Disebuah cafe jalan Setiabudi. Disana
kami bicara tentang banyak hal. Kebanyakan tentang aku dan alasanku kenapa jadi
mengikuti program ini. Aku suka mengobrol dengannya. Dia ramah dan menyenangkan. Berjeda
beberapa hari dari pertemuan itu dia menyatakan cinta, memintaku untuk menjadi
pacarnya. Jujur, untuk masalah ini aku sedikit melakukan pemberontakan.
Bagaimana bisa menjalin sebuah hubungan lagi sedangkan aku tahu persis luka itu
belum sembuh.
Setiap malam aku masih bisa merasakan denyut nyerinya. Bagaimana tumbuhnya
cinta dalam waktu sesingkat itu. Surat berisi pernyataan cinta itu aku simpan.
Tidak ada balasan untuk itu.
Lagi, dia
mengirimiku surat lagi, menanyakan tentang masalah pernyataan itu. Aku membalas suratnya dengan
sebuah ajakan untuk bertemu di cafe yang kemarin pernah kami kunjungi. Dia
mengiyakan. Disana aku menceritakan tentang kisahku dan menjelaskan tentang
aku. Aku menceritakan hal yang dianggap kebanyakan orang sebagai kesalahan
besar yang semestinya ditutupi. Tapi bagiku tidak, setiap siapapun yang ingin
lebih dekat denganku harus mengetahui dulu tentang cerita yang satu itu. Dia
meminta waktu untuk berpikir dan dengan sangat senang aku memberinya waktu
selama yang ia perlu.
Besoknya
saat di kelas, dia kembali mengajakku ke cafe. Membicarakan masalah itu. Aku
mengiyakan. Setelah waktu zuhur kami bertemu di cafe. Dia menyatakan bahwa dia
menerima semua kondisiku dan menjelaskan kenapa dia bisa jatuh cinta dalam
waktu sesingkat itu. Aku menyimak semua yang dia utarakan hari itu dan semua
itu membuat aku tertekan, disatu sisi aku suka dengan lelaki ini tapi
disisi yang lain ketakutan akan
terulangnya hal sama itu besar. Aku dilema sesat sebelum memutuskan bahwa aku
menerima apa yang dia tawarkan. Terhitung dari tanggal dua belas, aku resmi
punya pacar baru.
Memang
terlalu singkat waktu yang kami punya untuk langsung melebeli hubungan kami
dengan lebel yang lebih dari sekedar teman. Tapi aku tidak peduli tentang itu.
aku menikmati waktu yang kami miliki selama masih bersama. Dan perlahan,
perasaan itu tumbuh dan menyembuhkan apa yang pernah terluka.
Awalnya,
semua berjalan sangat baik. Sangat manis dan sangat berkesan sampai waktu kembali
mengambil peran antagonisnya. Perlahan aku merasa seperti dijauhinya, semua
janji-janjinya ia lupakan. Dalam waktu yang kupikir singkat, dia berubah menjadi
seperti bukan dia. Sampai saat akhir program. Dia bertingkah semaunya. Dengan
semua ikrarnya yang inkar aku menumpahkan semua kekecewaan dalam bentuk
linangan air mata. Mungkin karna itu dia sempat luluh sesaat.
Dia bilang
akan kembali untukku ke Bandung setelah dia menyelesaikan urusannya di kota
kelahirannya. Dengan bodohnya aku percaya.
Setelah
program, selama dua bulan, Aku menghabiskan waktuku di Bandung dengan berkeliling ke banyak tempat
sambil membawa harapan kecil terakhir yang dia janjikan bahwa dia akan datang.
Tapi harapan itu tidak kunjung nyata, aku malah membawa harapan itu pulang ke
kota kelahiranku juga.
Di
Banjamasin, aku kembali menjalani aktivitasku yang dahulu. Begadang sampai
pagi, berteriak menyenandungkan nada di malam hari. Entah sudah berapa lama aku
menghabiskan waktuku dengan aktivitas itu hanya untuk menutupi lubang baru yang
dia buat. Sampai suatu hari, aku mendapat sebuah potret gambar. Bukti nyata
bahwa dia berkhianat.
Dia sempat
menuduhku melakukan pengkhianatan sebelum aku tahu semua itu, aku membantah dan
melakukan berbagai cara untuk membuktikan kalau tuduhnnya itu salah.
Dengan
semua bukti yang kupunya itu, aku menegaskan kepadanya bahwa diantara aku dan dia sudah tidak
ada apa-apa lagi, bagaimanapun caranya membujuk sekalipun itu dengan ajakan untuk
mengobrol bertiga langsung via telpon antara aku, dia dan kekasih barunya. Aku
tidak akan ingin. Bagiku pengakuan si perempuan sejak kapan mereka sudah
menjalin hubungan dan dengan bukti foto-foto berdua mereka itu sudah cukup
untuk memantapkan kakiku berlari pergi meninggalkan mereka yang sudah terlanjur
berdua.
Aku sudah lega mendapati ujung kisah kita ternyata harus berakhir dengan pengkhianatan
yang datangnya darimu. Walau jauh sebelum ini terjadi aku sudah diwanti-wanti
untuk tidak terlalu menaruh harapan itu padamu. Tapi waktu itu aku buta dan
bodoh. Aku mengabaikan semua saran, Aku
mengabaikan semua omongan. Aku tutup mata dan kupingku dari semua hal yang
berkemungkinan merusak hubungan kita. Tapi nyatanya, kerusakan ini datang dari
pemainnya sendiri. Harusnya dari awal kritikan penonton itu kudengar.
Seharusnya dari awal aku mendengarkan apa yang hati kecilku bilang bahwa; kau
tidak ada bedanya sama sekali dengan mereka yang pernah memberiku warna gelap.
Aku menyesal pernah percaya padamu dan aku juga
menyesal pernah menganggap kamu berbeda.
Banjarmasin,
22 Maret
2018 1:10
0 komentar:
Posting Komentar