Dibeberapa hari terakhir ini, aku suka duduk menjauh dari kerumunan dan berdiskusi dengan diriku sendiri. Aku suka mencari jawaban atas pertanyaanku tentang; kenapa semua ini terjadi selalu jauh dari apa yang ku kehendaki.
Memang banyak yang bilang, semua sudah tertata dan sudah diatur sedemikian rupa untuk terjadi seperti ini, sesuai takdir. Tapi kadang, aku suka diam-diam mempertanyakan itu sendirian. Apa maksud takdir memberiku jalan seperti ini.
Banyak sekali tempat yang kusinggahi untuk berdiam sendiri dan mencari jawabannya di kepalaku. Bahkan kadang, kalau aku merasa ada seseorang yang bisa ditanyai, aku menceritakan sedikit kisahku dan mencari jawaban menurutnya. Tapi semua usaha, semua tempat, semua kesendirian, semua perenungan, semua pertanyaan, tidak pernah memberiku jawaban yang memuaskan.
Sampai di malam ini. Setelah lelah seharian tadi menghabiskan waktu bersama keluarga dan melihat wajah-wajah ceria mereka, wajah tersenyum si Ayah, aku mulai merombak ulang apa yang beberapa waktu kemarin mengganggu dan kupikirkan berlebih.
Hari ini, aku mendapatkan kesimpulanku sendiri. Mungkin memang tidak seharusnya seorang manusia mempertanyakan skenario langit. Mungkin memang sudah aturannya seorang manusia hanya perlu menjalani dan menghadapi kejadian apa pun yang sudah ditetapkan. Menikmatinya, melaluinya, menerimanya, mensyukurinya tanpa banyak tanya. Nanti juga, suatu saat kalau Pencipta mengijinkan, akan ada kejutan yang tidak pernah terpikir, tidak pernah disangka.
Semua ketetapan Tuhan itu adil, semua yang Tuhan tatakan untuk dijalani itu sudah dia ukur sesuai dengan kemampuan si manusia menghadapi. Tidak akan melampaui batas kekuatannya.
Ya. Sangat jelas begitu, sejelas bunyi ayat ke 286 di surah kedua dalam Al-Qur'an.
Banjarmasin,
30 Juli 2018 1:26
0 komentar:
Posting Komentar