Orang
yang kusumpahi itu muncul tiba-tiba. Datang dalam bentuk panggilan telepon dan
payahku kumat. Aku malah membiarkan dirku mendengar dia bicara. Dia selalu
begitu, datang dan menyapa seolah tidak punya dosa. Mudah sekali dia menyapa
padahal selama ini aku sudah bersusah payah berjuang lupa.
Dia juga menanyakan tentang kepedihan yang kuderita. Aku tahu di seberang sana dia tersenyum saat itu, jadi aku memilih diam daripada harus menjelaskan.
Dia
tidak pernah tahu rasanya menahan, yang dia tahu hanya satu; mematahkan.
Sulit sekali bagiku berdiri lagi, tapi dia tak pernah perduli tentang itu, dia cuma berkemampuan menjatuhkan, meruntuhkan, menghancurkan semua harapan yang pernah terpondasi atas namanya.
Sekarang
tidak lagi. Aku sudah mantap meninggalkan yang membuatku sakit.
Bandung,
27 Januari 2018 14:13
0 komentar:
Posting Komentar