Berbicara saja mudah. Semua orang bisa.
Bagian tersulit itu bukan mengungkapkan. Tapi menunjukkan.
Seperti halnya kalimat yang terlanjur kita sepakati.
Di balik itu, di dalam hatimu, entah menerima atau tidak. Tapi yang pasti aku tahu persis, bagian dalam hatiku memberontak.
Lagi-lagi, logika berperang dengan hati.
Aku bersekutu dengan logika. Yang terbentuk entah dari mana. Yang bersumber entah dari apa.
Hatiku kalah. Aku mengalahkannya.
Aku sendiri yang menikam hatiku dengan memilih untuk sekapat menontoni senja tanpa suaramu lagi.
Aku yang menyepakati untuk tidak ada kamu lagi dalam keseharianku.
Susah sekali menunjukkan bahwa aku tidak kenapa-kenapa setelah kata "kita" antara kamu dan aku sudah tidak berlaku. Ditambah lagi rumitnya karena alunan nada itu. Aku terlalu suka berteriak dengan nada. Menyanyikan lagu-lagu yang liriknya menggambarkan tentang kamu. Ah, kamu muncul hanya dalam bentuk bayangan. Terpacu timbul dari segala hal yang memuat ingatan tentang kamu. Bahkan dari tempat ini, kau dan aku pernah memandang senja secara tidak langsung.
Hanya sisa kenangan, sedikit lagu yang jelas tentang kamu, dan kepatah hatian kronis yang aku buat sendiri.
26 April 2017
18:36
0 komentar:
Posting Komentar