Bentuk kepedihan yang menjelma jadi tanda tanya, kenapa?
Kenapa harus rasa itu yang belakangan hadir?
Bukankah bibirku sudah pernah mengucap kata 'ikhlas' dengan apapun yang ditakdirkan Tuhan?
Ya, dengan semua cerita dan kenangan itu, jelas aku memerlukan waktu untuk berperan sebagai penyembuh. Orang (atau bahkan cinta) yang baru mungkin bisa membantu, tapi ia tidak sempurna dapat menyembuhkan. Sembuh atau tidaknya diriku tergantung aku sendiri, tergantung usahaku mau sekuat apa aku menghapus sendiri hal-hal yang sangat tidak pantas kuingat. Jadi, sebetulnya aku tidak memerlukan siapapun atau apapun untuk menyembuhkan lukaku sendiri. Cukup aku saja yang harus pintar mengelola rasa. Agar rasa sakitnya tidak menjelma menjadi bentuk kepayahan baru di masa depan.
Peran orang baru atau siapapun yang baru, itu hanya sebagai penunjang. Tapi kadang memang, seseorang itu perlu pendorong agar tidak terus diam di tempat. Jadi, pertama; aku harus menerima. Kedua; aku sendirilah yang bisa menjadi penyembuh untuk sakitku. Tiga; pengalihan/ orang baru perannya supporter. Setelah semuanya sudah kembali "baik-baik saja". Point nomer tiga itu otomatis akan terprioritaskan. Menggantikan cerita lama, menuliskan kenangan baru yang semoga berujung jauh dari rasa sakit dan kepatahhatian.
22:16
0 komentar:
Posting Komentar