Kali ini, Tuhan mempertemukan aku dengan seseorang yang terlalu banyak warna dalam hidupnya. Yang dari ceritanya dia punya mataharinya sendiri. Karena itu, aku lagi-lagi merasa kecil. Merasa sangat abu-abu. Lalu menyesal itu datang lagi dalam bentuk linangan air mata. Tak ada yang bisa
kulakukan untuk mengubah masa lalu, bahkan Tuhan pun tak mampu.
kulakukan untuk mengubah masa lalu, bahkan Tuhan pun tak mampu.
Dengan dia (semoga benar-benar dengan dia). Bolehkah aku menumbuhkan sebuah harapan?
Tidak sulit, aku hanya berharap dia yang akan mewarnai halaman yang baru kucoba beranikan untuk kubuka.
Tapi... aku merasa tak pantas...... harapanku melemah.
14 Oktober 2017 17:05
0 komentar:
Posting Komentar