Aku menitip rindu lewat Al-Fatihah yang kubaca setiap malam untukmu. Untuk sebuah nama yang selalu hatiku sebut. Untuk pemilik nama yang tatapannya selalu kuingat. Untuk pemilik nama yang pelukannya sungguh kurindukan.
Apakah tatapan itu masih tertuju padaku?
Rinduku terpenjara bersama ragaku. Hanya melayang-layang dalam satu petak kotak sempit. Sedangkan raganya bebas, sebebas rindunya yang aku tidak tahu untuk siapa saja rindu itu ditujukannya.
Semoga salah satu rindu itu tertuju padaku tak peduli itu rindu keberapa asal rindu itu darimu.
Banjarmasin, 16 Juli 2016
0 komentar:
Posting Komentar