Aku tau aku tidak bisa berenang, tapi dengan beraninya aku bermain-main dengan air. Genangan air yang dalam, gelap dan tak berdasar. Selama bermain disana aku tidak menangkap akan tanda bahwa air itu bisa jahat sampai waktu mengantarkan pada suatu kenyataan, sehebat apapun aku menghindar
dari pijakan tanah yang lemah akan selalu ada celah yang bisa menjatuhkan.
Aku tenggelam.
Panikku tak bisa menyelamatkan, udara yang kusimpan di paru-paru juga perlahan menjadi gelembung-gelembung. Dalam semua keterbatasan itu, aku nyaris mati.
Tapi dengan ajaib ada seseorang yang datang menceburkan diri lalu menolongku. Dia memompa dadaku dan membantuku mengeluarian air yang sudah menggantikan udara dalam paru-paruku sampai aku sadar, sehat dan kembali bisa mengembangkan senyum.
Aku merasa hidup. Iya, ditemani kata-katanya aku bisa merasakan sesuatu yang berdetak dalam diriku. Dadaku dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran setiap musim panas tiba. Indah sekali.
Sampai di suatu hari yang cerah, matahari pagi dengan lembut memberikan rerumputan cahaya untuk berfotosintesis menghasilkan oksigen yang sekarang kuhirup.
Aku menghirupnya bersama seseorang yang menyelamatkanku dari tenggelam.
Dalam sela waktu aku berani menatap matanya dan mengatakan dalam hati beribu ucapan terimakasih karena dia sudah menjadi jembatan yang diberikan Tuhan atas keselamatanku.
Lirih, pelan aku berkata "jangan pernah hilang"
Namun, saat aku sedang bersemu dalam sebuah titik terang atas harapan yang mulai tumbuh terarah padanya, dia menunjukkan satu genangan air yang berarus. Awalnya aku menikmati suasana di sana, aku pikir hal itu akan jadi sebuah kenangan manis yang akan kami tulis bersama tapi nyatanya tidak! Saat aku sedang menikmati angin yang mengantarkan hujan ke kaki kami, dia mendorongku kedalam air.
Aku tenggelam lagi...
Banjarmasin,
30 Maret 2018 00:47
dari pijakan tanah yang lemah akan selalu ada celah yang bisa menjatuhkan.
Aku tenggelam.
Panikku tak bisa menyelamatkan, udara yang kusimpan di paru-paru juga perlahan menjadi gelembung-gelembung. Dalam semua keterbatasan itu, aku nyaris mati.
Tapi dengan ajaib ada seseorang yang datang menceburkan diri lalu menolongku. Dia memompa dadaku dan membantuku mengeluarian air yang sudah menggantikan udara dalam paru-paruku sampai aku sadar, sehat dan kembali bisa mengembangkan senyum.
Aku merasa hidup. Iya, ditemani kata-katanya aku bisa merasakan sesuatu yang berdetak dalam diriku. Dadaku dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran setiap musim panas tiba. Indah sekali.
Sampai di suatu hari yang cerah, matahari pagi dengan lembut memberikan rerumputan cahaya untuk berfotosintesis menghasilkan oksigen yang sekarang kuhirup.
Aku menghirupnya bersama seseorang yang menyelamatkanku dari tenggelam.
Dalam sela waktu aku berani menatap matanya dan mengatakan dalam hati beribu ucapan terimakasih karena dia sudah menjadi jembatan yang diberikan Tuhan atas keselamatanku.
Lirih, pelan aku berkata "jangan pernah hilang"
Namun, saat aku sedang bersemu dalam sebuah titik terang atas harapan yang mulai tumbuh terarah padanya, dia menunjukkan satu genangan air yang berarus. Awalnya aku menikmati suasana di sana, aku pikir hal itu akan jadi sebuah kenangan manis yang akan kami tulis bersama tapi nyatanya tidak! Saat aku sedang menikmati angin yang mengantarkan hujan ke kaki kami, dia mendorongku kedalam air.
Aku tenggelam lagi...
Banjarmasin,
30 Maret 2018 00:47
0 komentar:
Posting Komentar