Dan aku tak melihat tanda-tanda kedatangannya, padahal aku berharap. Dan rasa kecewa kecil mulai membentuk dalam hatiku. Padahal tidak seharusnya begitu. Karena harusnya aku tahu mengharapkan sesuatu yang kemungkinannya kecil untuk terjadi hanya sia-sia. Harusnya aku sadar, bukan hakku
untuk mengharapkan seseorang mengambil resiko dengan menyediakan waktu untukku.
untuk mengharapkan seseorang mengambil resiko dengan menyediakan waktu untukku.
Aku bukan siapa-siapa.
Kadang, ingin sekali lisanku menjelaskan kalau dalam keadaan seperti ini aku sedang perlu-perlunya dia. Tapi kemudian ucapan itu kutelan lagi. Aku harus tahu diri untuk tidak melibatkan siapa pun dalam kekacauan yang aku buat. Aku harus bisa menahan egoku untuk tidak menambah-nambahi masalah orang lain. Cukuplah dengan sendiri. Dengan masalah dan pikiranku sendiri.
Bukankah aku memang mencintai kesendirian?
Bukankah aku sendiri yang memutuskan untuk menyendiri sekarang?
Lalu kenapa aku berani sekali menumbuhkan harapan yang merepotkan itu?
Kenapa aku lancang sekali berdoa dalam hati untuk melihat sosoknya malam ini?
Aku salah atas pemikiran yang seperti itu. Maka, aku pantas untuk dihukum untuk tidak dijumpakan dengannya dalam hitungan waktu yang entah sampai kapan.
Terserah Tuhan sajalah, aku pasrah.
19:02
0 komentar:
Posting Komentar