Sepagi ini, dalam kamar ini, sesuyi ini juga, aku tiba-tiba sangat merindukan kamarku. Aku rindu suasana pagi di sana. Aku rindu meihat cahaya matahari yang mencoba menyusup dari sela gorden yang tidak akan kubuka sebelum jam 11 pagi. Aku rindu duduk di atap dengan kopi, menunggu pemilik warna jingga di pagi dan senja itu datang.
Sungguh, seandainya di kota itu tak banyak luka dan kenangan buruk, mungkin sekarang aku sudah bergegas untuk pulang ke sana. Atau malah, mungkin sejak kemarin-kemarin aku bisa pulang, mengerjakan aktivitas yang seharusnya dikerjakan Mama di rumah, berkumpul di ruang tengah Manggis dengan Acikela, Hanum, Ayah, Azki dan kadang ada Humai, Bowu, juga Acil Yasmin di sana. Makan gorengan dengan jumlah banyak sambil menceritakan tentang banyak hal, saling melempari pertanyaan "kapan nikah" yang biasanya diucapkan Bowu dan Acikela ke Hanum, Humai dan aku. Atau kalau semua benar-benar sedang ngumpul, kami bertiga melemparkan pertanyaan itu ke abang Bilam, sesepuh diangkatan kesepupuan kami, atau bang Sayyef dan abang Natsir, bahkan kadang Ali'iza.
Manis sekali momen kebersamaan itu. Setelah jauh dari mereka, aku baru sadar kalau kebiasaan sederhana di ruang Manggis itu benar-benar berharga.Bagiku merekalah keluarga paling sempurna. Aku sangat bersyukur bisa berada di tengah-tengah mereka. Walau dirumah tak pernah lengkap anggotanya, walau aku tak tahu rasanya menikmati pisang goreng disore hari dengan Ayah, Mama, Kakak dan Adikku secara utuh. Mengobrol dan ada canda juga nasehat disela itu.
Tak apa, dengan anggota keluarga yang ini saja sudah lebih dari cukup untukku.
Sungguh, seandainya di kota itu tak banyak luka dan kenangan buruk, mungkin sekarang aku sudah bergegas untuk pulang ke sana. Atau malah, mungkin sejak kemarin-kemarin aku bisa pulang, mengerjakan aktivitas yang seharusnya dikerjakan Mama di rumah, berkumpul di ruang tengah Manggis dengan Acikela, Hanum, Ayah, Azki dan kadang ada Humai, Bowu, juga Acil Yasmin di sana. Makan gorengan dengan jumlah banyak sambil menceritakan tentang banyak hal, saling melempari pertanyaan "kapan nikah" yang biasanya diucapkan Bowu dan Acikela ke Hanum, Humai dan aku. Atau kalau semua benar-benar sedang ngumpul, kami bertiga melemparkan pertanyaan itu ke abang Bilam, sesepuh diangkatan kesepupuan kami, atau bang Sayyef dan abang Natsir, bahkan kadang Ali'iza.
Manis sekali momen kebersamaan itu. Setelah jauh dari mereka, aku baru sadar kalau kebiasaan sederhana di ruang Manggis itu benar-benar berharga.Bagiku merekalah keluarga paling sempurna. Aku sangat bersyukur bisa berada di tengah-tengah mereka. Walau dirumah tak pernah lengkap anggotanya, walau aku tak tahu rasanya menikmati pisang goreng disore hari dengan Ayah, Mama, Kakak dan Adikku secara utuh. Mengobrol dan ada canda juga nasehat disela itu.
Tak apa, dengan anggota keluarga yang ini saja sudah lebih dari cukup untukku.
0 komentar:
Posting Komentar