20:58
Malam yang dingin dan gelap. Tepat di bawah tangga itu. Dalam sela jalan yang entah namanya apa. Disana sunyi, tak ada apapun, tak ada siapapun. Satu-satunya temanku hanyalah suara rintik hujan di deretan atap-atap yang rapat. Dan tentu saja asap. Sedikit banyaknya sesuatu itu bisa mengurangi kesalku.
21:07
Kali ini desir air gorong-gorong yang jadi penonton, sebatang kayu hidup meresap asap yang terkepul dari desah napasku. Juga bangku dari tumbuhan mati yang kududuki saat aku menangis.
Sempat terselip doa di sana, sebuah harapan kecil untuk bisa melihat sosokmu malam ini, biar sebentar saja. Tapi buru-buru kutepis harap kecil itu. Karena sebenarnya aku tahu, tak mungkin ada ksempatan malam ini untuk sekejap saja bertemu dengannya. Keadaan dan waktu kadang menjadi hal yang kumusuhi. Apalagi di saat seperti ini, saat harapan kecil itu mencoba tumbuh namun kubunuh karena memang aku tahu sekecil apapun harapan kalau tak ter-realisasikan akan memunculkan rasa kecewa kepermukaan.
Jadi, sepanjang jalan pulang tadi sedikitpun aku tak berani mengingat-ingat harap kecilku. Namun hati tidak pernah bisa terkalahkan oleh kemunafikan pikiranku. Dan di jalan tadi dengan setengah kesadaran rupanya mataku memerhatikan setiap sudut yang berkemungkinan memunculkan dirinya.
23 Oktober 2017
0 komentar:
Posting Komentar